langkah demi langkah aku memaksa
bertambah senyuman yang tak ada makna
entah apa lagi, atau masih hampa
semakin sepi, semakin gila
tak lagi ada tempat untuk pulang
yang ku kira selamanya sudah tinggal poster
tempat ku singgah pun ikut hilang
di mana aku bisa melepas armor tanpa filter
sejenak, ku pikir aku berhasil menggantikan mereka
mengganti sekitar dengan teman-teman sejenis
tapi apa daya, menjadi perempuan adalah manajemen neraka
berperang hormon dan pengorbanan yang sadis
satu mengandung, satu berkelut dengan pasangan
satu menjadi ibu, lainnya berbeda hobi
bisnis terhambat, berkorban pertemanan
yang lain terpisah jarak, sisanya menjauh hati
ah, mungkin memang harusnya sendiri
sejak lahir dan tumbuh, pun sama
apakah teguran untuk aku berhenti
mencari tenang dan puas dari luar saja
No comments:
Post a Comment