Thursday, June 18, 2020

bohong


ketika ditanya, tipe film apa yang paling disuka,
ia selalu menjawab apa saja, atau film lucu.
nyatanya, kebanyakan film yang ia tonton adalah romansa atau drama keluarga.
tiap adegan mesra, ia selalu tertawa.
konyol, katanya.
tapi diam-diam ia sebenarnya tau,
ada bagian hatinya yang merasa kesepian saat melihat adegan-adegan konyol itu. 
seperti harapan yang terkubur dalam hingga ia tak tau apa harapnya.

saat ia berpisah dengan kekasih-kekasihnya,
teman-temannya sering bertanya apa ia baik-baik saja.
lagi, ia menjawab dengan candaan.
ia adalah jiwa bebas dengan sayap yang megah.
begitu pikirnya.
walau hatinya takut kehilangan.

suatu kala, seorang kawan bertanya padanya,
tentang bagaimana ia bisa terus bahagia dan hidup tanpa masalah.
ia hanya tertawa. 
biarkan saja dirimu mengapung pada ombak dunia.
jangan terlalu dipikirkan, ikuti saja kemana arus membawa.
padahal di malam hari yang sama, ia menangis tersedu sampai subuh. 

dan ketika mendengar keluhan, ia selalu mendebat;
menyuruh orang untuk mensyukuri, sebab mereka beruntung.
masih banyak orang yang penderitaannya jauh lebih berat.
dalam hatinya, ia membenci diri sendiri karena merasa kurang bersyukur dan tak berguna.

kebiasaannya aneh.
ia terbiasa mengujar kebohongan yang tak perlu.
saat ditanya, bukan jawaban sesungguhnya yang keluar dari mulutnya.
entah, mungkin ia hanya ingin merasa kuat.
padahal ia hanya sedang menulis omong kosong ini bersama sebatang rokok dan satu-dua teguk whisky dalam diam,
berharap subuh ini bisa nyenyak.

Saturday, June 13, 2020

kekalahan harian

malam itu, tangisnya pecah juga.

segala beban, kesedihan, pikiran,

tertuang dalam air mata.


pemicunya adalah teriakan bolak-balik,

antara ayah dan ibunya.

suatu yang paling ia benci, sampai selalu ingin meninggalkan rumah.

sejak kecil, pertengkaran seperti ini selalu jadi alasan tangisnya.

dulu, karena takut terjadi perpisahan.

kini, karena takut salah satu tersakiti.

mereka sudah tua.

tak ada yang lebih penting baginya.

cita-citanya berubah menjadi kebahagiaan mereka.


tapi, itu hanya pemicu.

saat pitam naik ke titik didih,

yang meledak adalah isi rasa dan pikirnya.

ada yang mengganjal di hatinya.

pertempuran antara kepentingan dan kemauan.

timbangan ego di antara cita-cita dan ayah-ibu.


ia menangis tersedu,

tengkurap memeluk bantal,

hingga mata terasa bebal.

ia merasa gagal.

ia menyalahkan dirinya lagi.

seandainya ia sudah sukses sekarang,

ayah-ibu nya tak perlu bertengkar karena uang.

ia tak perlu cemas karena ayah-ibunya bisa hidup tanpa dikejar hutang dan angka.

kerjanya kurang keras.

mentalnya kurang giat.

ia terlalu terbuai nyaman.

talentanya banyak,

namun ia selalu menyia-nyiakan apa yang dipunya.

tak pantas ia merasa.

masih terlalu lemah untuk ingin jadi pejuang.

ia ketakutan memandang jalannya.


ia berpikir keras, apa yang bisa dilakukannya?

haruskah ia mengorbankan bidang kesukaannya,

dan mencari nafkah yang lebih pasti dan stabil?

pikirannya berputar sembari air mata tetap mengalir.

sampai di tebing putus asa,

ia merasa rela untuk menikah dengan siapapun yang kaya,

benar-benar bunuh diri agar ayah-ibu nya hidup.


lalu kembali berlari pikirannya.

umurnya sudah seperempat abad.

memang sepantasnya ia mulai berpikir tentang pernikahan.

namun ia takut,

begitu takut untuk menjalin hubungan atas sumpah yang sangat kuat.

kembali lagi,

ia menyadari,

pertengkaran dan kondisi ayah-ibu nya menyumbang banyak terhadap ketakutannya.


akhirnya ia menyalakan telepon genggam,

yang sejak sore ia matikan karena ingin menghilang.

dengan menonton, ia mengalihkan pikirannya.

ternyata kecintaannya pada film dan sejenisnya,

hanya sebatas peralihan bagi pikirannya yang bekerja terus tanpa hasil.

lagi-lagi, ia merasa tidak berguna.

lalu menyerah lagi, dan mencoba terlelap.

Thursday, June 11, 2020

sepi

hening menyengatku.
suara angin dan kucing liar menjadi latar.
tak ada alunan lagu.
hanya pikiran yang berputar.

aku rindu nyanyian ombak.
juga tawa bersama anggur merah.
dalam hati saja ku berteriak.
jiwa ini begitu gelisah.

mental baja tak ku miliki.
aku tak sekuat imajinasi.
apa kurang tekad ini?
berat melangkah walau dihantui.

lamunanku terus pecah dan mengulang.
terlalu sulitkah bahagia ditemukan?
aku kira raga hanya ingin pulang.
ah, ternyata ku selalu kesepian.

Wednesday, May 27, 2020

kamu lagi

ayam sudah berkokok, tapi mataku belum terpejam.
sudah 4 kali aku mengucap permohonan pada malaikat angka kembar.
yang berarti 4 jam sudah ku coba terlelap.
4.44 saat ku tulis ini.
sayangnya lelahku hilang, kala melihat tulisan baru yang ia toreh.
seperti biasa aku tak mengerti maksud di balik kata-katanya yang antik.
tetap saja kubaca lagi.
sebenarnya, ada sedikit takut yang menghampiri.
takut ia membaca torehanku, yang pastinya terlalu harafiah baginya.
entah, bagai koin dengan dua sisi.
hatiku rasanya terbagi dua kubu.
sebagian ingin ia membacanya.
ah, kadang aku terganggu dengan pikirku sendiri.
ajaib namun menakutkan, tentang memori yang dapat tersangkut di lagu.
yang tak kamu ketahui kapan lagu tersebut akan melantunkan ingatan tentang orang yang sama.
mengapa begitu sering aku ingin membaca lagi lembaran berisikan kamu?
seperti sengaja kau tinggalian pembatas di sana, agar jadi halaman yang selalu terbuka.
sudah lah, tutup dan simpan saja.
toh kita sama-sama tau harus kemana kalau nanti ingin berlari lagi.

Monday, May 11, 2020

115-25

selamat ulang tahun.
satu alasan untuk bisa menyapa dirimu.
walau singkat, tapi cukup.
aku takut mengganggu.
aku takut kau kira ku masih berharap.
aku takut, perasaanku tentang kamu tidak kau rasa.
sebenarnya, aku tak lagi berangan untukmu.
hanya saja, aku terlalu peduli.
dan kamu selalu jadi tempat aku berlari.
tak adil memang.
namun aku malah berharap kau juga begitu.
entah rasa bersalah, atau memori yang panjang, 
membuatku begitu terikat.
yang pasti, aku melihatmu dari jauh dan berdoa.
semoga panjang umurmu, sehat jiwa ragamu,
dan bahagialah selalu hatimu.
selamat ulang tahun, kamu.
Tuhan memberkati.

Saturday, May 9, 2020

hapus

kala tengah malam,
aku hentikan marathon film yang berjalan seharian.
sudah dua hari aku ingin menuliskan tentang kalian.
seperti biasa aku menunda.
memang kebiasaan yang buruk, pun dengan alasan beragam.
mungkin kali ini aku menundanya untuk menyiapkan hatiku,
untuk melepas kalian, termasuk kenangan dan harapan yang masih terkubur diam-diam.
memang begitu seharusnya.
aku pantas mendapatnya.
tuaian atas taburku.
kedua orang yang berlari bergantian di kepalaku,
bukan untukku.
mungkin aku hanya mengingatnya di kala sepi,
dan mengingatmu karna masih bertanya.
tapi keduanya tak baik, untukku dan untuk kalian.
aku akan menjauh. walau sudah jauh.
akan kuhapus kenangan-kenangan yang menggangu.
membuka kuburan rindu dan harap, lalu membakarnya agar hilang.
biar ku kembali pada aku yang dulu.
aku yang bertualang tanpa arah, tanpa ikatan, dan tanpa berharap.

Tuesday, April 21, 2020

subuh biru

selamat subuh, kamu yang mungkin juga belum tidur.
hubungan yang tercipta di antara kita begitu aneh.
setidaknya untukku, yang selalu mengisi void hati dengan dirimu.
aku tak tahu jika ini suatu salah atau benar,
karena selalu kamu yang muncul, tapi selalu ketika kekosongan itu timbul.
begitu banyak kurangmu untuk menjadi pendamping hatiku.
namun entah, rasanya aku takkan bisa lupa denganmu.
kini, ketika jam dinding menunjukkan angka hampir tiga, 
dan lagu-lagu sedang bernyanyi lewat alat yang juga kugunakan untuk menulis ini,
yang kubayangkan adalah duduk berdua denganmu, 
di dalam mobil biru yang menjadi saksi bisu.
mendengarkan lagu yang hanya sampai bait karena kamu selalu menggantinya di tengah nyanyianku.
sebuah gagasan yang menurutmu konyol dan buang waktu.
namun sesuatu yang membayangkannya saja membuatku tersenyum.
aku tak tahu apa yang membuatku terjebak dalam siklus ini.
aku pun tak mengerti apa aku hanya menyukai adrenalin saat bertemu diam-diam, 
atau memori kita yang panjang, atau mungkin memang kamu?
untuk bersama, rasanya tidak mungkin bagiku dan bagimu.
tapi untuk melupakanmu aku tak mampu dan tak mau.
detik ini pula tersirat di pikiranku,
apa jadinya jika tiba-tiba aku menerima undangan pernikahan berisikan namamu dan seorang lain?
relakah aku?
mungkin. yang penting kamu bahagia selalu.
dan tetap menjadi sahabatku.
namun satu pintaku jika hal itu akan terjadi.
izinkan aku untuk melihatmu melantunkan melodi di atas panggung secara langsung.
satu keinginan sederhana yang belum terwujud.
mungkin lain kali, suatu hari.
kalau begitu,
lega sudah, mari tidur.
selamat subuh.

Sunday, April 5, 2020

"Jeong/Jung"

Hai, jadi sebenernya ini ditulis untuk ikutan lomba cerpen di LINE haha.
Tapi entah kenapa emailnya gakbisa kekirim.
Jadi yaudah di post disini aja hehe

_________________________________________________________


Cinta pertama.
Dua kata yang sering didengar, sering disebut, hingga bahkan sering dikatakan klise;
namun jarang dimengerti.
Aku pun sempat beberapa kali menyalahartikan cinta pertama, bahkan menyalahartikan cinta itu sendiri.
Ku kira, cinta pertama berarti pacar pertama, atau gebetan pertama yang kamu dambakan di masa sekolah dasar.

Sebagai perempuan yang sering dipuji karena kecantikan dan prestasi, banyak laki-laki yang mendekati aku.
Bahkan sejak SD, aku sudah sering “ditembak”.
Berkali aku menolak untuk mempunyai hubungan.
Aku terlalu takut untuk berpacaran. Selain itu, aku menyukai seseorang yang kukira adalah cinta pertamaku.
Hingga akhirnya aku memasuki bangku SMP dan berubah karena pengaruh pergaulan. Akhirnya pertama kali aku memutuskan untuk memiliki hubungan yang dinamakan pacaran.
Jadian—lalu putus. Begitu ternyata pola berpacaran.
Yang lucu adalah, di masa SMP aku sempat berhasil berpacaran dengan orang yang aku kira cinta pertamaku itu. Tetapi justru aku biasa saja ketika bersama dia. Ternyata selama SD, aku hanya kagum, bukan cinta. Lagipula kalau dipikir-pikir, waktu ku SD tahu apa aku soal cinta?

Tiga tahun di SMP; lalu tiga tahun di SMA; empat tahun kuliah.
Seiring bergantinya bulan dan tahun, berkali kucoba berkomitmen dalam hubungan.
Waktu tetap berlari dengan kencang, hingga aku pun tiba-tiba sudah dewasa.
Sekejap aku merefleksikan hubungan-hubungan yang pernah aku jalani.
Selama ini, ku kira cinta itu sesuatu yang sederhana.
Sesuatu yang akan mudah dimengerti.
Namun ternyata, dari sekian laki-laki yang telah ku jadikan pacar; dari sekian waktu yang telah kuhabiskan untuk berpacaran, baru kini aku sadar, bahwa cinta tak sesederhana itu.
Pacar pertama bukan berarti cinta pertama.
Bahkan di saat aku sudah bekerja dan usiaku memasuki seperempat abad, barulah aku mengerti bagaimana cinta yang sebenarnya.

Aku kembali ke memori di saat duduk di bangku SMA.
Kala itu, kami baru saja memasuki ajaran baru di kelas 1.
Ada anak baru di sekolahku, tepatnya di kelasku.
Ia berbeda dengan anak laki-laki yang lain; dari penampilan hingga cara berbicara yang berbeda; bercandanya pun berbeda.
Hanya butuh beberapa hari baginya untuk menjadi pusat perhatian di kelas.
Bukan karena tampan atau kaya, tetapi karena kekonyolan dan pembawaannya yang selalu menjadikannya moodmaker di kelas.
Tapi momen dimana aku menyadari bahwa aku tertarik olehnya adalah ketika ia mengeluarkan jurus bakat musiknya di kelas. Begitu kharismatik, namun tetap rendah hati.

Singkat cerita, aku dan dia semakin dekat dan akhirnya berpacaran.
Satu tahun berlalu, dua tahun, lalu lulus.
Tiga tahun bersama, banyak sekali kenangan yang indah, buruk, lucu, tak terlupakan.
Bahkan keluargaku dan keluarganya sudah saling kenal.
Aku pun pernah ikut diajak liburan bersama keluarga besarnya.

Semua berubah ketika kami pergi ke universitas yang berbeda, dan dari sana lah mulai benih-benih perpisahan.
Pergaulan kami berbeda, begitu pun jadwal, dan akhirnya prinsip.
Naik dan turun, berbagai pertengkaran, dan menurunnya frekuensi bertemu, menghantarkan kami pada keputusan untuk berpisah.
Tak butuh waktu lama, aku dan dia sama-sama memiliki kekasih baru.
Kami pun menjalani hidup di jalan masing-masing sejak itu.
Hal tersebut terjadi sekitar 6 tahun yang lalu.

Mungkin sampai di sini, kalian mengira aku sebegitu rindu dan ingin bertemu dengannya, tidak bisa melupakannya dan masih menyimpan rasa diam-diam?
Salah. Justru anehnya, hingga kini, aku dan dia terus bersahabat.
Memang, banyak orang yang tidak mengerti dengan hubunganku dengannya.
Kami berdua sama-sama memiliki kekasih. Tapi kami selalu saling peduli satu sama lain.
Di titik tertentu, kami pasti bertemu atau mungkin sekedar mengirim pesan untuk bertukar kabar dan canda.
Aneh? Aku tahu.
Dan jika kami bertemu, apakah tumbuh kembali perasaan itu? Tidak.
Kami hanya sekedar peduli, dan tidak akan pernah berhenti untuk peduli.
Perkembangan hidupnya aku banggakan dan aku dukung dengan caraku sendiri.
Apakah aku ingin kembali bersama dengannya? Tidak.
Secara prinsip, aku dan dia sudah berbeda jauh. Namun aku akan selalu berharap yang terbaik untuknya.

Baru-baru ini aku sadari, bahwa dari sekian hubungan yang aku miliki dengan berbagai laki-laki,
dia adalah cinta pertamaku, dan mungkin satu-satunya orang yang pernah aku benar cintai.

Ada kutipan film yang langsung mengingatkanku pada dirinya.
Kutipan itu menjawab keanehan hubunganku dengannya.
Istilah korea yang dinamakan “jung”.
Kata tersebut tidak mudah untuk diartikan; merupakan sebuah hubungan yang sederhana namun kompleks; hubungan yang tak bisa dirusak.
Walaupun cinta berubah menjadi benci, aku takkan bisa menghapusnya dariku; aku akan selalu mempunyai tempat khusus di hatiku untuk peduli padanya.

Cinta pertamaku sudah berubah menjadi rasa sayang yang berbeda, yang tak ingin memiliki,
namun takkan pernah tergantikan.