Tuesday, March 26, 2013

Sajak Iba

Sajak iba dari hatiku
Untuk diriku sendiri
Ingin ku maki jiwa ini
Yang serakah dan palsu

Aku ini piala berkarat di dalam
Indah rupanya beracun isinya
Diperebutkan para adam
Tak tau mereka akan aslinya

Dua ksatria beradu pedang
Untuk putri tak tau diri
Tak tau siapa yang menang
Hanya rahasia hati putri

Terkadang kenikmatan
Satu dayung dua pulau
Tanpa peduli keadaan
Terbuai rasa jadi ratu

Terkadang kegelisahan
Saat nurani bimbang
Antara makna kesetiaan
Atau ia yang berjuang

-ral / 26 03 13-

Monday, March 25, 2013

5 Things

Well waktu itu modul sastra. Gue lagi nggada ide buat nyoret-nyoret puisi dan sejenisnya jadi gue memutuskan buat bikin list serba lima.

5 Things I Love from Myself:
- My first name : Raviella
- My collarbones
- My belly button and my ears B)
- My nails
- My long tongue :P

5 Favorite Things:
- anything chocolate (bar, milk, ice cream, cake, etc)
- presents and gifts (anything, dari yg paling kecil sampe paling wow)
- purple stuffs
- animal print (I'm a huge fan of dalmatian!)
- surprises (anything unexpected is always fun)

5 Things I Hate The Most:
- Insects (especially spiders! Ga ngerti kenapa harus ada laba-laba di dunia)
- sofa / sejenisnya yang robek atau bolong
- sakit (karna itu bisa menghambat kegiatan dan bikin lemah)
- kotor (ya ga semua sih, ada bbrp jenis kotor yang gue gasuka)
- rencana gagal / batal / ngaret (apalagi kalo udh gua siapin sebaik2nya)

5 Indonesian Food I Love The Most:
- indomie
- gorengan (pisang, tempe, bakwan, otak-otak, mpek-mpek, cireng, pangsit) dan kerupuk kampung
- pisang tukang sayur
- yang berbumbu kacang (gado2 siomay batagor)
- mie ayam benyek

5 Non-Indonesian Food I Love The Most:
- Cucina Italiana! (pizza, pasta, gelatto etc)
- French Sweets (macaroons, creme brullee, souffle, crepes, etc)
- Japanese (sushi, sashimi, bento, ramen)
- Hindi (prata, kari, canai, nasi kebuli/briyani)
- American (burger, french fries, hotdog, marshmallow)

5 Food I Don't Wanna Eat:
- anything jahe
- jambu & nanas
- anjing (mereka temen, bukan makanan)
- semua seafood kecuali ikan (alergi)
- jeroan (hati, kikil, otak, usus, dll)

5 Favorite Drinks:
- air mineral
- susu (terutama rasa coklat)
- coffee & tea
- baileys B)
- fresh apple/banana/avocado/melon/orange/mango juice


5 Drinks I Hate:
- anything jahe
- jamu
- mizone dan other energy drink
- soda (especially cocacola)
- rebusan apapun


5 Favorite Animals:
- dogs (especially dalmatian!)
- big cats (tiger, lion, leopard, cheetah, jaguar, dll, terutama harimau putih)
- horse (terutama putih)
- reptil (terutama ular, pokoknya yang kulitnya keren)
- primata dan beruang

5 Activities I Love The Most:
- dancing and doing any kind of sports
- singing and playing guitar
- watching movies
- shopping
- laughing and hanging out :)

Paradoks Rasa

Adakah kamu melihat?
Melihat sesuatu yang bahkan tak pernah berwujud.

Dapatkah kamu mendengar?
Mendengar sesuatu yang bahkan tak pernah berbunyi.

Maukah kamu mengungkapkan?
Mengungkapkan sesuatu yang bahkan tak pernah terangkai kata.

Bisakah kamu mengerti?
Mengerti sesuatu yang bahkan tak pernah masuk akal.

Relakah kamu melepaskan?
Melepaskan sesuatu yang bahkan tak pernah kau genggam.

Taukah kamu merasa kehilangan?
Kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah jadi milikmu.

Pernahkah kamu merindu?
Merindukan sesuatu yang bahkan tak pernah pergi.

Ya, dia tak pernah pergi.
Karna dia memang tak pernah menetap sebelumnya.


-ral-
21-3-13

Tuesday, March 19, 2013

Hapus Sudah

Keindahan yang selalu di angan
Kesalahan yang harus dihapus
Coba lupakan semua kenangan
Walau berat, aku harus

Maaf, untuk cerita yang tertulis
Hanya sedetik, harus ku iris
Maaf, untuk datang dan pergi
Hanya sekejap, kujatuhkan mimpi

Hatiku menangis
Meronta kehendak
Ku tak mau kau hilang
Tinggalkan aku mengenang

Tapi akalku berteriak
Ingatkan kata mereka
Ini demi kebaikan
Sebuah rasa harus ku relakan

***

Hapus,
Hapuskan segala cerita
Hapuskan segala mimpi
Hapuskan segala harapan
Hapuskan segala janji
Antara aku dan kamu

Sudah,
Sudah sampai di akhir
Akhir dari kisah yang belum dimulai
Akhir dari rasa yang kita pendam
Sudah simpan saja masing-masing

Sadar,
Sadarlah kita berbeda
Walau cinta tak memandangnya
Tapi hidup melihatnya
Sadarlah kita menyakiti
Walau hati tak mau mengerti
Tapi akal sehat memahami
Sadarlah kamu berharga
Walau kamu rela jadi yang kedua
Tapi kamu pantas jadi pertama


-ral

Menghapus Sebuah Nama

Aku menulis namamu
Indah, tapi salah
Sudah ada nama di situ
Salah, walau indah

Ku goreskan sebuah penghapus
Agar namamu tak lagi ada

Sekuat tenaga berkali ku coba
Namamu tetap di kertas itu
Ternyata ku menulis dengan tinta
Pantas tak bisa terhapus namamu

Ku coret namamu
Nanar, tapi benar
Berharap takkan lagi di situ
Benar, tapi nanar

Ku goreskan sebuah pensil
Namamu tetap terbaca

Sesungguhnya aku tak rela
Ku hanya pura-pura tak tau
Tak ku gunakan tinta
Karna masih ku ingin namamu

-ral

Saturday, March 16, 2013

Wadah Segala Adam

Untuk kamu yang selalu ada
Di kala mereka putus asa
Untuk kamu yang jadi lentera
Setiap hilang ratu mereka

Hati demi hati
Kamu koleksi satu-satu
Gantung tinggi-tinggi
Indah semu harapan palsu

Hai, wadah segala adam
Hawa penyerap mimpi
Putih di kala hitam
Berwujud air padahal api

Kecantikan jadi senjata
Membius dalam diam
Serigala kaum hawa
Domba para adam


-ral.

Sepuluh

Banyak orang berkata padaku
Hal baik datang pada yang menunggu
Jika aku bersabar saja
Takkan ada yang tak bisa

Berapa lama lagi ku harus menunggu

Bertahun sudah aku terpaku
Hari demi hari aku terbelenggu
Sia-sia sudah dimakan waktu

Hanya cinta yang ku cari

Seorang kekasih pendamping
Sebuah rasa yang takkan mati
Yang bukan hanya dalam dongeng

Walau tak jua ku mengerti

Semangatku takkan terjun
Aku tetap tunggu di sini
Satu, dua... sepuluh tahun.


-ral.

Friday, March 15, 2013

Rindu dalam Mimpi

Sering aku bermimpi
Tentang hadirmu dalam khayalan
Saat ramai dan sepi
Dalam muram dan senyuman

Tak ada ku tahu

Apa makna mimpi itu
Karna aku pun tak mau
Selalu kau masuki tidurku

Lelah ku simpan sendiri

Ku bagi cerita ini
Walau ku tak mau mengaku
Kata orang itu rindu


-ral-
13.3.13

Untuk Sebuah Arti


” Aku ingin kamu bahagia dengannya, dan dengan begitu aku akan sangat bahagia.”


Sering aku mendengar kalimat itu. “Bullshit,” begitulah tanggapanku. Aku tak percaya cinta sejati. Ya, aku memang menjalin hubungan, satu sampai empat orang dalam setahun. Putus-nyambung. Biasa. Kalau aku suka, ya aku dekati. Sampai dapat. Kalau tidak, untuk apa cinta-cintaan? Justru di situ serunya. Dan asyiknya, aku selalu dapat siapa yang ku mau. Tentu saja, dengan segala kelebihan dan kecantikanku, serta kepopuleranku, siapa yang mampu menolak aku?

Itu dulu.

Sebelum aku benar-benar mengerti. Ternyata selama ini aku buta akan arti cinta. Dan aku belum benar-benar merasakan. Layaknya seorang bocah yang baru mengerti cara berjalan, namun berteriak “Mama, aku berlari!” seperti itulah aku ini.


***

Aaron, begitulah ia dipanggil. Dulu, ia adalah anak yang pendiam, kutu buku, dan tidak pernah memperhatikan penampilannya. Ia selalu jadi bahan ejekan teman-teman, mulai dari penampilannya, sampai kelakuannya. Tapi yang paling sering menjadi bahan tawaan adalah saat ia mendekatiku. Aku memang ratu di sekolah ini. Dan didekati banyak laki-laki buikanlah hal yang luar biasa bagiku. Menerima coklat, bunga, kartu ucapan, gambar, lagu, dan segala jenis rayuan lainnya aku sudah biasa. Cara menanggapi dari yang paling manis sampai yang paling tak acuh pun sudah di luar kepala. Namun didekati Aaron adalah hal yang membuatku risih. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang membuatnya begitu teguh. Bermacam jenis ejekan dan tawaan tak membuatnya gentar. Ia terus mendekatiku dengan caranya yang aneh, sejak kelas 6 SD sampai sekarang.

Tanpa ada yang menduga, sejak SMA, ia berubah 180 derajat. Ia merubah penampilannya menjadi seperti layaknya laki-laki era ini dan itu membuat wajah tampan yang selama ini tertutup buku menjadi terlihat. Aaron juga mulai berani menunjukkan bakat-bakat terpendamnya dan jadi aktif di sekolah. Perempuan-perempuan pun berbalik arah dan menggilai laki-laki baru stok lama ini, walaupun semua orang tau, ia melakukan perubahan besar-besaran seperti itu demi aku. Agar aku menyukainya. Yang paling membuatku takjub adalah, ia tak tergoda sama sekali dengan kepopuleran mendadaknya, dan tetap terfokus untuk mendapatkan hatiku. Dan ia berhasil.


***

Hari ini adalah ulang tahun ke empat hari jadianku dengan Aaron. Sambil menunggu ajakan kencan darinya, aku memilih-milih baju di lemariku. Aku senang sekali, empat tahun bersamanya merupakan pengalaman yang tak bisa ku nilai harganya. Aku merasakan apa yang orang bilang sebagai cinta pertama. Aaron telah mengajariku apa itu jatuh cinta. Dan aku ingin berterima kasih padanya dengan memberikan sebuah kue yang aku buat sendiri  –walaupun aku tidak bisa masak, untuk hadiah hari jadi kami ini. Aku puas dengan hasil karyaku ini, walaupun tidak sebagus kue-kue di toko. Tapi belajar membuat kue secara kilat dari internet adalah pengalaman pertamaku, dan ku rasa aku cukup sukses.

Berjam-jam ku tunggu, tak ada kabar. Bahkan ucapan selamat pagi dariku belum dibalasnya. Sudah jam 3 sore. Tidak mungkin Aaron belum bangun. Aku mulai heran dan akhirnya aku memutuskan untuk meneleponnya.

Sudah ke-24 kali aku meneleponnya, tetap tak ada jawaban. Aku jadi panik mendadak. Tak pernah sebelumnya ia begini. Ku coba menghubungi teman-temannya. Tak ada yang tau keberadaan Aaron. Akhirnya, tanpa pikir panjang, aku mengambil kunci mobil dari laci dan segera bergegas ke kos nya.

Tak ada motor Aaron di depan rumah kos itu. Tak ada suara apapun pula dari dalamnya. Aku terdiam di depan gerbang selama satu jam, dua jam, tiga jam, tak ada yang berubah. Sudah jam 7 malam, lampu belum dinyalakan, artinya tak ada orang di dalam sana. Suasana mulai gelap sehingga aku memutuskan untuk pulang saja. Sambil menyetir aku menangis. Kecewa, sedih, khawatir, bingung –jadi satu.

Seharian aku menunggu kabar. Aku sudah tertidur di sofa saat handphone ku berdering. Sudah jam 10 malam. Aaron! Aku terloncat dan segera membuka sms darinya.


Hey, maaf baru ngabarin. Tadi aku jalan-jalan sama tim futsal, tapi handphone ku ketinggalan di rumah. Udah tidur ya?


Aku terdiam. Apa Aaron benar-benar lupa hari ini adalah hari jadi kami? Lalu apakah ia sangat sibuk sampai tak bisa mengabariku setelah bangun pagi atau sebelum pergi? Aku mematikan handphone ku dan memejamkan mata, mengakhiri hari yang menyedihkan ini.


***

“Sorry nih, kalo terdengar lancang. Tapi Aaron itu nggak sebaik yang kamu pikirin. Aku memang teman baiknya, tapi aku juga nggak tega ngeliat kamu ‘buta’ kayak gini,” jelas Bruno, sahabat Aaron. Ia menunjukkan bukti-bukti Aaron selingkuh. Aku benar-benar terkejut. Sosok Aaron yang kukenal sebagai lelaki paling setia, hebat, dan kekasih yang sempurna, hilanglah sudah.

Aku berinisiatif untuk membicarakan hubungan kami. Aaron terlihat dingin, dan acuh tak acuh. “Aaron, aku serius! Kamu masih sayang nggak sih?” tanyaku yang mulai emosi. Air mataku mulai terbendung di kelopak mata. Aaron tersenyum dan menatapku. “Aku sayang sama kamu,” katanya tersenyum. Kami berpelukan dan aku pun merasa lega.

Lagi-lagi Bruno membawa kabar yang tak enak. Namun kali ini aku tak mau percaya. Tak ku dengar kata-kata Bruno, sampai akhirnya ia bersikeras membawaku ke salah satu mal besar di kota. Ia bilang aku akan menemukan kenyataan di sana. Baiklah, tak ada salahnya ku turuti sekali ini saja. Bruno terus memberiku doktrin tentang kejelekan Aaron. Aku tidak mempercayainya, tentu saja. Namun itu tak membuatnya putus asa meyakinkanku.

“Apa kubilang,” kata Bruno singkat saat kami melihat Aaron dari kejauhan. Ya, dia tak sendiri, melainkan berdua. Dan, ya, dia temanku. Teman baikku. Sahabatku. Stephanie. Biasanya, orang akan mengatakan “Mereka jalan berdua karena Aaron minta bantuan untuk mencari hadiah untukmu.” Tapi ini berbeda. Mereka terlihat mesra sekali. Aaron merangkul pundak mungil Stephanie. Mereka tertawa-tawa gembira sambil sesekali berpandangan. Dadaku terasa sesak. Kepalaku terasa berputar tak karuan. Aku menarik Bruno ke arah tempat parkir. Segera ku duduk di kursi depan sebelah kiri, lalu menangis di sana. Bruno duduk di sampingku, tak tega raut mukanya. “Club, Brun,” kataku memaksa Bruno untuk menyetir ke arah sebuah club. Bruno terlihat bingung. Ia tak bisa mencegahku untuk memesan berbotol-botol minuman beralkohol. “Aku dan Aaron udah ngerencanain pernikahan, Brun…..” kataku sambil menangis terisak-isak.

Hanya itu yang ku ingat. Saat aku membuka mata, aku sudah ada di kamarku, di atas kasur dan di balik selimut. Aku jadi tak enak, Bruno jadi harus repot membawaku pulang. Jam 10 pagi. Aku segera mencari handphone ku dan melihat ada sebuah sms. Pasti Aaron! Aku masih tidak yakin harus bersikap seperti apa padanya. Marah? Atau diam saja?


Goodnight :)


Hanya itu? Setelah aku menghilang ia hanya mengucapkan selamat malam? Aku benar-benar sedih. Aku sangat mencintai Aaron, tapi ku kira tak ada gunanya lagi mempertahankan hubungan yang seperti ini. Aku pun meneleponnya untuk bertemu.

“Yaudah, kalau emang kamu mau,” jawab Aaron dingin saat aku mengucapkan kata putus. Benar-benar tidak ada rasa untuk mempertahankan. Aku tak mengerti kesalahan apa yang telah ku perbuat sampai ia menjadi seperti ini. Saat aku bertanya, ia hanya menjawab bahwa segalanya berubah. Aku membosankan. Tanpa sepatah kata aku meninggalkannya saat itu juga. 

Secara kebetulan Bruno meneleponku dan akhirnya menjemputku dan mengantarku pulang. Lagi-lagi aku menangis di atas pundaknya. Untuk menghiburku, secara tiba-tiba ia memberikanku sebuah kalung berliontin ukiran namaku. Kesedihan yang mendalam tertutup sebentar oleh rasa senang yang tipis.


***

Memang cinta sejati itu bullshit. Aku kembali pada prinsip lamaku. Laki-laki, untuk mainan saja. Tak ada lah kata selamanya dalam benakku. Lebih baik aku bersenang-senang. Sejak perpisahanku dengan Aaron, aku sudah jadian dengan 3 lelaki.

Tetapi… Selama delapan bulan ini, Bruno selalu menjagaku. Setiap putus lagi, Bruno yang ada untuk mendengar tangisanku. Di bulan kedelapan setelah perpisahanku dengan Aaron juga inilah, aku memutuskan untuk membuka hatiku lagi untuk seseorang yang selalu ada di sampingku. Bruno tersenyum mendengar keputusanku, lalu memelukku. Tak kusangka, matanya berkaca. Apakah ia sebegitu tulusnya menyayangi ku sampai ingin menangis saat aku menerimanya? Aku pun tertawa, mencoba mencairkan suasana. Ia menyambut tawaku dan kami pun tersenyum.

Dua bulan sudah. Bruno membantuku untuk perlahan melupakan Aaron. Entah apa ini gila, karena Aaron selingkuh dengan sahabatku, dan kini aku menjadi kekasih sahabatnya. Aku tak mau peduli. Aku hanya ingin bahagia dengan Bruno. Walau aku masih ragu, tapi aku terus mencoba untuk percaya bahwa Bruno takkan sama seperti Aaron.

Semua berjalan baik. Aku sudah bisa tertawa dan bersenang-senang bersama Bruno. Tapi, siapa yang menyangka. Hari ini, Bruno datang membawa kabar berwarna hitam. “Kita ke rumah duka sekarang, yuk,” ajak Bruno dengan lembut. Seketika aku lemas. Aku jatuh ke pundak Bruno disertai air mata yang berderai deras. Bruno juga tak bisa menahan air matanya. Kesedihan yang mendalam bagi kami berdua.

Sesuatu yang telah diketahui semua orang. Semua, kecuali aku. Surat itu, surat dari Aaron untukku. Sepucuk kertas yang menjelaskan arti sebuah hati yang hanya ingin memberi.



Untuk kamu yang selalu jadi kekasih di hatiku.

Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tak lagi di dunia. Maaf, untuk menyakiti hati kamu. Maaf juga, untuk menyembunyikan semuanya darimu. Vonis dokter tentang kanker yang menjalar di otakku hanya akan membebanimu jika aku membiarkanmu tau. Dan aku tak mau itu. Aku tau, kepergian itu menyedihkan. Apalagi tanpa kata-kata pamit. Namun akan terasa lebih sakit apabila kamu kehilangan seseorang yang sangat kamu cintai secara tiba-tiba. Maka aku ingin membuatmu kehilangan seseorang itu dengan perlahan, sembari memudarkan rasa yang berlebih itu selangkah demi selangkah.

Aku tak pernah lupa hari jadi kita, Sayang. Kalung yang berukir namamu itu mungkin adalah hadiah terakhir dariku. Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui. Jangan kamu membenci Stephanie, karena aku perlu membujuknya seribu kali agar mau berpura-pura mengkhianatimu dalam perselingkuhan palsu itu. Ia pun pada akhirnya mau membantuku hanya demi kebahagiaanmu. Dan jangan kamu menolak Bruno, karena ia adalah orang yang paling ku percaya untuk menjagamu saat aku tak ada. Berjanjilah, jangan lagi kamu mabuk-mabukan seperti waktu itu. Siapa yang akan mengantarmu pulang sekarang? Jangan kamu membebani Bruno.

Permintaan terakhirku untukmu, jangan kamu tangisi aku lama-lama. Cintailah Bruno seperti kamu mencintai aku. Namun jangan lagi mengingatku saat kamu bahagia dengannya. Anggaplah kisah cinta kita adalah dongeng sebelum tidur, tentang cinta sejati yang tak pernah mati. Kamu adalah cinta itu bagiku. Selalu. Tapi jangan membalas perasaanku. Aku ingin kamu bahagia dengannya, dan dengan begitu aku akan sangat bahagia.

Aaron.


(ral)

Friday, March 1, 2013

Pertemuanku Dengan Keledai


Waktu itu, aku sibuk mengejar kudaku yang hilang.
Belum sampai ku ikat lagi, ketika aku harus pergi sebentar.
Ketika aku pergi, ada sesosok keledai muncul.
Tak terlihat, menjadi badut di segala situasi.
Dianggap remeh orang-orang, hanya jadi bahan tertawa.
Siapa yang mengira, seekor keledai yang dianggap bodoh, 
lebih pintar daripada kita yang jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Seperti aku, yang dulu telah berjanji akan mengejar kuda yang hilang 
dan tak akan menaiki kuda lain sehingga ia pergi.
Malah kini aku jatuh lagi.
Keledai yang kata orang hanya lelucon, 
Justru memapahku dari kesedihan, membuatku tersenyum dan merasa terlindungi.
Membawaku, mengangkatku dari kelelahan
ketika kuda yang katanya gagah itu tak ada di waktu yang paling ku butuhkan.
Aku merasa nyaman duduk di atas punggungnya, walau tanpa pelana.
Aku haus akan perlindungan dan perhatian.
Dan keledai itu memberikan minuman pelepas dahaga.
Mungkin karena kuda merasa gagah dan elok, tinggi gengsinya.
Tapi keledai itu, penuh kejujuran dan ketulusan.
Rendah hati dan tanpa keluh dapat ia laksanakan semua.
Gengsi, persetan dengan gengsi.
Ia punya caranya sendiri untuk dihormati.
Keledai itu mengantarku pulang, mengembalikanku ke atas pelana kuda.
Demi perasaannya, ia tak rela.
Tapi demi aku, diletakkannya perasaan itu di bawah kebahagiaanku,
sehingga rela lah ia.
Aku kembali duduk di pelana kuda, 
sambil melihat keledai yang tetap berjalan di belakangku,
Berharap seseorang yang pantas akan menungganginya kelak.
Harapan yang sulit diharapkan, tapi aku harus mengharapkannya.
Agar dia bahagia, tak seperti denganku.
Harapan, akan seseorang yang takkan menjadikannya “kuda cadangan”,
Merpati yang lebih putih bersinar,
Yang akan merubahnya menjadi kuda putih tergagah,
Dan mengakhiri pertemuanku dengan keledai. 



- ral. 1-3-13 -
dari kisah nyata 2 'sahabat'