”
Aku ingin kamu bahagia dengannya, dan dengan begitu aku akan sangat bahagia.”
Sering aku
mendengar kalimat itu. “Bullshit,”
begitulah tanggapanku. Aku tak percaya cinta sejati. Ya, aku memang menjalin
hubungan, satu sampai empat orang dalam setahun. Putus-nyambung. Biasa. Kalau
aku suka, ya aku dekati. Sampai dapat. Kalau tidak, untuk apa cinta-cintaan?
Justru di situ serunya. Dan asyiknya, aku selalu dapat siapa yang ku mau. Tentu
saja, dengan segala kelebihan dan kecantikanku, serta kepopuleranku, siapa yang
mampu menolak aku?
Itu dulu.
Sebelum aku
benar-benar mengerti. Ternyata selama ini aku buta akan arti cinta. Dan aku
belum benar-benar merasakan. Layaknya seorang bocah yang baru mengerti cara
berjalan, namun berteriak “Mama, aku berlari!” seperti itulah aku ini.
***
Aaron,
begitulah ia dipanggil. Dulu, ia adalah anak yang pendiam, kutu buku, dan tidak
pernah memperhatikan penampilannya. Ia selalu jadi bahan ejekan teman-teman,
mulai dari penampilannya, sampai kelakuannya. Tapi yang paling sering menjadi
bahan tawaan adalah saat ia mendekatiku. Aku memang ratu di sekolah ini. Dan
didekati banyak laki-laki buikanlah hal yang luar biasa bagiku. Menerima
coklat, bunga, kartu ucapan, gambar, lagu, dan segala jenis rayuan lainnya aku
sudah biasa. Cara menanggapi dari yang paling manis sampai yang paling tak acuh
pun sudah di luar kepala. Namun didekati Aaron adalah hal yang membuatku risih.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang membuatnya begitu teguh. Bermacam jenis
ejekan dan tawaan tak membuatnya gentar. Ia terus mendekatiku dengan caranya
yang aneh, sejak kelas 6 SD sampai sekarang.
Tanpa ada
yang menduga, sejak SMA, ia berubah 180 derajat. Ia merubah penampilannya
menjadi seperti layaknya laki-laki era ini dan itu membuat wajah tampan yang
selama ini tertutup buku menjadi terlihat. Aaron juga mulai berani menunjukkan
bakat-bakat terpendamnya dan jadi aktif di sekolah. Perempuan-perempuan pun
berbalik arah dan menggilai laki-laki baru stok lama ini, walaupun semua orang
tau, ia melakukan perubahan besar-besaran seperti itu demi aku. Agar aku
menyukainya. Yang paling membuatku takjub adalah, ia tak tergoda sama sekali
dengan kepopuleran mendadaknya, dan tetap terfokus untuk mendapatkan hatiku.
Dan ia berhasil.
***
Hari ini
adalah ulang tahun ke empat hari jadianku dengan Aaron. Sambil menunggu ajakan
kencan darinya, aku memilih-milih baju di lemariku. Aku senang sekali, empat tahun bersamanya merupakan pengalaman yang tak bisa ku nilai harganya. Aku
merasakan apa yang orang bilang sebagai cinta pertama. Aaron telah mengajariku
apa itu jatuh cinta. Dan aku ingin berterima kasih padanya dengan memberikan
sebuah kue yang aku buat sendiri
–walaupun aku tidak bisa masak, untuk hadiah hari jadi kami ini. Aku
puas dengan hasil karyaku ini, walaupun tidak sebagus kue-kue di toko. Tapi
belajar membuat kue secara kilat dari internet adalah pengalaman pertamaku, dan
ku rasa aku cukup sukses.
Berjam-jam
ku tunggu, tak ada kabar. Bahkan ucapan selamat pagi dariku belum dibalasnya.
Sudah jam 3 sore. Tidak mungkin Aaron belum bangun. Aku mulai heran dan
akhirnya aku memutuskan untuk meneleponnya.
Sudah ke-24
kali aku meneleponnya, tetap tak ada jawaban. Aku jadi panik mendadak. Tak
pernah sebelumnya ia begini. Ku coba menghubungi teman-temannya. Tak ada yang
tau keberadaan Aaron. Akhirnya, tanpa pikir panjang, aku mengambil kunci mobil
dari laci dan segera bergegas ke kos nya.
Tak ada
motor Aaron di depan rumah kos itu. Tak ada suara apapun pula dari dalamnya.
Aku terdiam di depan gerbang selama satu jam, dua jam, tiga jam, tak ada yang
berubah. Sudah jam 7 malam, lampu belum dinyalakan, artinya tak ada orang di
dalam sana. Suasana mulai gelap sehingga aku memutuskan untuk pulang saja.
Sambil menyetir aku menangis. Kecewa, sedih, khawatir, bingung –jadi satu.
Seharian aku
menunggu kabar. Aku sudah tertidur di sofa saat handphone ku berdering. Sudah
jam 10 malam. Aaron! Aku terloncat dan segera membuka sms darinya.
Hey, maaf baru ngabarin. Tadi aku jalan-jalan sama tim
futsal, tapi handphone ku ketinggalan di rumah. Udah tidur ya?
Aku
terdiam. Apa Aaron benar-benar lupa hari ini adalah hari jadi kami? Lalu apakah
ia sangat sibuk sampai tak bisa mengabariku setelah bangun pagi atau sebelum
pergi? Aku mematikan handphone ku dan memejamkan mata, mengakhiri hari yang menyedihkan
ini.
***
“Sorry nih,
kalo terdengar lancang. Tapi Aaron itu nggak sebaik yang kamu pikirin. Aku
memang teman baiknya, tapi aku juga nggak tega ngeliat kamu ‘buta’ kayak gini,”
jelas Bruno, sahabat Aaron. Ia menunjukkan bukti-bukti Aaron selingkuh. Aku
benar-benar terkejut. Sosok Aaron yang kukenal sebagai lelaki paling setia, hebat,
dan kekasih yang sempurna, hilanglah sudah.
Aku
berinisiatif untuk membicarakan hubungan kami. Aaron terlihat dingin, dan acuh
tak acuh. “Aaron, aku serius! Kamu masih sayang nggak sih?” tanyaku yang mulai
emosi. Air mataku mulai terbendung di kelopak mata. Aaron tersenyum dan menatapku. “Aku sayang sama
kamu,” katanya tersenyum. Kami berpelukan dan aku pun merasa lega.
Lagi-lagi
Bruno membawa kabar yang tak enak. Namun kali ini aku tak mau percaya. Tak ku
dengar kata-kata Bruno, sampai akhirnya ia bersikeras membawaku ke salah satu
mal besar di kota. Ia bilang aku akan menemukan kenyataan di sana. Baiklah, tak
ada salahnya ku turuti sekali ini saja. Bruno terus memberiku doktrin tentang
kejelekan Aaron. Aku tidak mempercayainya, tentu saja. Namun itu tak membuatnya
putus asa meyakinkanku.
“Apa
kubilang,” kata Bruno singkat saat kami melihat Aaron dari kejauhan. Ya, dia
tak sendiri, melainkan berdua. Dan, ya, dia temanku. Teman baikku. Sahabatku. Stephanie.
Biasanya, orang akan mengatakan “Mereka jalan berdua karena Aaron minta bantuan
untuk mencari hadiah untukmu.” Tapi ini berbeda. Mereka terlihat mesra sekali.
Aaron merangkul pundak mungil Stephanie. Mereka tertawa-tawa gembira sambil
sesekali berpandangan. Dadaku terasa sesak. Kepalaku terasa berputar tak karuan. Aku menarik Bruno ke arah tempat parkir. Segera ku duduk
di kursi depan sebelah kiri, lalu menangis di sana. Bruno duduk di sampingku, tak
tega raut mukanya. “Club, Brun,” kataku memaksa Bruno untuk menyetir ke arah
sebuah club. Bruno terlihat bingung. Ia tak bisa mencegahku untuk memesan berbotol-botol minuman
beralkohol. “Aku dan Aaron udah ngerencanain pernikahan, Brun…..” kataku sambil
menangis terisak-isak.
Hanya itu
yang ku ingat. Saat aku membuka mata, aku sudah ada di kamarku, di atas kasur
dan di balik selimut. Aku jadi tak enak, Bruno jadi harus repot membawaku
pulang. Jam 10 pagi. Aku segera mencari handphone ku dan melihat ada sebuah
sms. Pasti Aaron! Aku masih tidak yakin harus bersikap seperti apa padanya.
Marah? Atau diam saja?
Goodnight :)
Hanya itu?
Setelah aku menghilang ia hanya mengucapkan selamat malam? Aku benar-benar
sedih. Aku sangat mencintai Aaron, tapi ku kira tak ada gunanya lagi mempertahankan
hubungan yang seperti ini. Aku pun meneleponnya untuk bertemu.
“Yaudah,
kalau emang kamu mau,” jawab Aaron dingin saat aku mengucapkan kata putus.
Benar-benar tidak ada rasa untuk mempertahankan. Aku tak mengerti kesalahan apa
yang telah ku perbuat sampai ia menjadi seperti ini. Saat aku bertanya, ia
hanya menjawab bahwa segalanya berubah. Aku membosankan. Tanpa sepatah kata aku
meninggalkannya saat itu juga.
Secara kebetulan Bruno meneleponku dan akhirnya menjemputku
dan mengantarku pulang. Lagi-lagi aku menangis di atas pundaknya. Untuk menghiburku, secara tiba-tiba ia memberikanku sebuah kalung berliontin ukiran namaku. Kesedihan yang mendalam tertutup sebentar oleh rasa senang yang tipis.
***
Memang
cinta sejati itu bullshit. Aku
kembali pada prinsip lamaku. Laki-laki, untuk mainan saja. Tak ada lah kata
selamanya dalam benakku. Lebih baik aku bersenang-senang. Sejak perpisahanku
dengan Aaron, aku sudah jadian dengan 3 lelaki.
Tetapi… Selama
delapan bulan ini, Bruno selalu menjagaku. Setiap putus lagi, Bruno yang ada
untuk mendengar tangisanku. Di bulan kedelapan setelah perpisahanku dengan
Aaron juga inilah, aku memutuskan untuk membuka hatiku lagi untuk seseorang
yang selalu ada di sampingku. Bruno tersenyum mendengar keputusanku, lalu
memelukku. Tak kusangka, matanya berkaca. Apakah ia sebegitu tulusnya
menyayangi ku sampai ingin menangis saat aku menerimanya? Aku pun tertawa,
mencoba mencairkan suasana. Ia menyambut tawaku dan kami pun tersenyum.
Dua bulan
sudah. Bruno membantuku untuk perlahan melupakan Aaron. Entah apa ini gila,
karena Aaron selingkuh dengan sahabatku, dan kini aku menjadi kekasih
sahabatnya. Aku tak mau peduli. Aku hanya ingin bahagia dengan Bruno. Walau aku
masih ragu, tapi aku terus mencoba untuk percaya bahwa Bruno takkan sama seperti
Aaron.
Semua
berjalan baik. Aku sudah bisa tertawa dan bersenang-senang bersama Bruno. Tapi,
siapa yang menyangka. Hari ini, Bruno datang membawa kabar berwarna hitam.
“Kita ke rumah duka sekarang, yuk,” ajak Bruno dengan lembut. Seketika aku
lemas. Aku jatuh ke pundak Bruno disertai air mata yang berderai deras. Bruno
juga tak bisa menahan air matanya. Kesedihan yang mendalam bagi kami berdua.
Sesuatu yang telah diketahui semua orang. Semua, kecuali aku. Surat itu, surat dari Aaron untukku. Sepucuk
kertas yang menjelaskan arti sebuah hati yang hanya ingin memberi.
Untuk
kamu yang selalu jadi kekasih di hatiku.
Saat
kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tak lagi di dunia. Maaf, untuk menyakiti
hati kamu. Maaf juga, untuk menyembunyikan semuanya darimu. Vonis dokter tentang kanker yang menjalar di otakku hanya akan membebanimu jika aku membiarkanmu tau. Dan aku tak mau itu. Aku tau, kepergian itu menyedihkan. Apalagi tanpa kata-kata pamit. Namun akan terasa lebih sakit
apabila kamu kehilangan seseorang yang sangat kamu cintai secara tiba-tiba.
Maka aku ingin membuatmu kehilangan seseorang itu dengan perlahan, sembari
memudarkan rasa yang berlebih itu selangkah demi selangkah.
Aku tak pernah lupa hari jadi kita, Sayang. Kalung yang berukir namamu itu mungkin adalah hadiah terakhir dariku. Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui. Jangan kamu membenci Stephanie, karena aku
perlu membujuknya seribu kali agar mau berpura-pura mengkhianatimu dalam perselingkuhan palsu itu. Ia pun pada
akhirnya mau membantuku hanya demi kebahagiaanmu. Dan jangan kamu menolak
Bruno, karena ia adalah orang yang paling ku percaya untuk menjagamu saat aku
tak ada. Berjanjilah, jangan lagi kamu mabuk-mabukan seperti waktu itu. Siapa yang akan
mengantarmu pulang sekarang? Jangan kamu membebani Bruno.
Permintaan
terakhirku untukmu, jangan kamu tangisi aku lama-lama. Cintailah Bruno seperti
kamu mencintai aku. Namun jangan lagi mengingatku saat kamu bahagia dengannya.
Anggaplah kisah cinta kita adalah dongeng sebelum tidur, tentang cinta sejati
yang tak pernah mati. Kamu adalah cinta itu bagiku. Selalu. Tapi jangan
membalas perasaanku. Aku ingin kamu bahagia dengannya, dan dengan begitu aku
akan sangat bahagia.
Aaron.
(ral)