ayam sudah berkokok, tapi mataku belum terpejam.
sudah 4 kali aku mengucap permohonan pada malaikat angka kembar.
yang berarti 4 jam sudah ku coba terlelap.
4.44 saat ku tulis ini.
sayangnya lelahku hilang, kala melihat tulisan baru yang ia toreh.
seperti biasa aku tak mengerti maksud di balik kata-katanya yang antik.
tetap saja kubaca lagi.
sebenarnya, ada sedikit takut yang menghampiri.
takut ia membaca torehanku, yang pastinya terlalu harafiah baginya.
entah, bagai koin dengan dua sisi.
hatiku rasanya terbagi dua kubu.
sebagian ingin ia membacanya.
ah, kadang aku terganggu dengan pikirku sendiri.
ajaib namun menakutkan, tentang memori yang dapat tersangkut di lagu.
yang tak kamu ketahui kapan lagu tersebut akan melantunkan ingatan tentang orang yang sama.
mengapa begitu sering aku ingin membaca lagi lembaran berisikan kamu?
seperti sengaja kau tinggalian pembatas di sana, agar jadi halaman yang selalu terbuka.
sudah lah, tutup dan simpan saja.
toh kita sama-sama tau harus kemana kalau nanti ingin berlari lagi.