Wednesday, May 27, 2020

kamu lagi

ayam sudah berkokok, tapi mataku belum terpejam.
sudah 4 kali aku mengucap permohonan pada malaikat angka kembar.
yang berarti 4 jam sudah ku coba terlelap.
4.44 saat ku tulis ini.
sayangnya lelahku hilang, kala melihat tulisan baru yang ia toreh.
seperti biasa aku tak mengerti maksud di balik kata-katanya yang antik.
tetap saja kubaca lagi.
sebenarnya, ada sedikit takut yang menghampiri.
takut ia membaca torehanku, yang pastinya terlalu harafiah baginya.
entah, bagai koin dengan dua sisi.
hatiku rasanya terbagi dua kubu.
sebagian ingin ia membacanya.
ah, kadang aku terganggu dengan pikirku sendiri.
ajaib namun menakutkan, tentang memori yang dapat tersangkut di lagu.
yang tak kamu ketahui kapan lagu tersebut akan melantunkan ingatan tentang orang yang sama.
mengapa begitu sering aku ingin membaca lagi lembaran berisikan kamu?
seperti sengaja kau tinggalian pembatas di sana, agar jadi halaman yang selalu terbuka.
sudah lah, tutup dan simpan saja.
toh kita sama-sama tau harus kemana kalau nanti ingin berlari lagi.

Monday, May 11, 2020

115-25

selamat ulang tahun.
satu alasan untuk bisa menyapa dirimu.
walau singkat, tapi cukup.
aku takut mengganggu.
aku takut kau kira ku masih berharap.
aku takut, perasaanku tentang kamu tidak kau rasa.
sebenarnya, aku tak lagi berangan untukmu.
hanya saja, aku terlalu peduli.
dan kamu selalu jadi tempat aku berlari.
tak adil memang.
namun aku malah berharap kau juga begitu.
entah rasa bersalah, atau memori yang panjang, 
membuatku begitu terikat.
yang pasti, aku melihatmu dari jauh dan berdoa.
semoga panjang umurmu, sehat jiwa ragamu,
dan bahagialah selalu hatimu.
selamat ulang tahun, kamu.
Tuhan memberkati.

Saturday, May 9, 2020

hapus

kala tengah malam,
aku hentikan marathon film yang berjalan seharian.
sudah dua hari aku ingin menuliskan tentang kalian.
seperti biasa aku menunda.
memang kebiasaan yang buruk, pun dengan alasan beragam.
mungkin kali ini aku menundanya untuk menyiapkan hatiku,
untuk melepas kalian, termasuk kenangan dan harapan yang masih terkubur diam-diam.
memang begitu seharusnya.
aku pantas mendapatnya.
tuaian atas taburku.
kedua orang yang berlari bergantian di kepalaku,
bukan untukku.
mungkin aku hanya mengingatnya di kala sepi,
dan mengingatmu karna masih bertanya.
tapi keduanya tak baik, untukku dan untuk kalian.
aku akan menjauh. walau sudah jauh.
akan kuhapus kenangan-kenangan yang menggangu.
membuka kuburan rindu dan harap, lalu membakarnya agar hilang.
biar ku kembali pada aku yang dulu.
aku yang bertualang tanpa arah, tanpa ikatan, dan tanpa berharap.