Tuesday, November 4, 2014

Dulu

Tuhan, tolong sadarkan dia.
Hanya itu pintaku, Tuhan.
Jangan sampai bahagia dicabut dari hidupnya.
Hukumlah aku, jangan dia...


***


"Netta, kamu buruan jemput mama ya sekarang di salon. Mama udah telat nih mau ke kantor," pinta mama buru-buru di telepon.
"Iya, Ma. Aku baru selesai latihan cheers, sebentar ya," jawabku lalu menutup telepon.
Aduh, cape banget. Haaah gini deh kalo sharing mobil sama mama.
Oke, aku beli minum, ngadem bentar, terus jemput mama.


*
Astagaaaa macet banget sih, udah buru-buru gini.
Ini lagi motor berantakan di perempatan.
KRIIIIING KRIIIIING
Aduh mama telfon lagi, pasti dia udah ngomel-ngomel deh ini.
Tancep gaaaaasssss.

BRAAAAAK

Ya Tuhan! Aku nabrak motor! Gimana nih!!!!

"Woy! Turun Mba!!" teriak orang-orang di luar.
"I...iya, Mas..." aku segera turun dari mobil.
Seorang remaja laki-laki terluka parah di depan mataku.
Dan dia......................
Nggak! Ini ga mungkin!!!!!!


***


"Net, ayo pulang dulu. Kamu belum makan, belum mandi, terus kuliah kamu gimana coba? Yang bener dong kamu tuh," suara mama samar-samar masuk ke otakku, memecah lamunan yang hampir jauh.
"Nggak, Mah. Aku mau di sini dulu sampe dia sadar," jawabku tanpa melihat ke arah mama.
"Iya tapi kamu nggak boleh nyalahin diri kamu sendiri terus, Netta. Kan memang kejadiannya dia yang ngelanggar lalu lintas. Bahkan kamu udah bayar bill rumah sakitnya walaupun udah terbukti ini bukan salah kamu. Udah ya, Netta. Keluarganya kan juga udah menuju ke sini," jawab mama membujuk dan mengomel sekaligus.
"Iya, Ma. Keluarga dia harus beli tiket pesawat dulu, terus perjalanan berapa jam? Mama tega liat dia sendiri?" aku bicara sambil setengah menangis.
"Mama ngerti. Tapi di sini kan ada dokter sama suster yang bisa jagain dia. Please, Netta. Pulang dulu yah. Papa kamu juga udah nyariin terus," kata mama.
"Ya udah, Aku pulang. Tapi aku tunggu Tirza dateng dulu," jawabku sambil mengeluarkan handphone.
"Oke. Mama tunggu di restoran lobby ya, sekalian beli makan buat kamu," kata mama tanpa kujawab.

"Halo, Tirza? Udah di mana?" tanyaku di telepon.
"Ini otw, Net. Macet banget. Matthew udah sadar belum?" Tirza balik bertanya.
"Belum, Za. Hmm... Ya udah deh, gue tunggu ya," jawabku lalu menutup telepon.

"Matt... Sadar dong. Maafin aku... Aku selalu bego. Aku selalu bikin kamu sakit," aku gak kuat menahan air mata.
Sambil sesunggukan aku duduk di samping tempat tidurnya dan aku genggam tangannya.
"Matthew... Sembuh yaaaa, please..." kata ku lagi sambil menaruh kepalaku di atas tangannya dan membiarkan airmataku membasahinya.


*
"Matthew!!!" suara Tirza membangunkan ku.
Aku segera melepas genggaman tanganku dan menghapus airmata yang tersisa di wajahku.
Tanpa mempedulikan aku, Tirza segera berlari menuju Matthew dan memeluknya.
Ia lalu menangis dan mencium keningnya.
"Matthew kamu kenapa bisa gini sih... Sadar sayang, kamu harus sembuh ya sayang..." kata Tirza sambil menangis.
Tanpa kata aku beranjak keluar ruangan.
Tidak sepantasnya aku di sini.

"Netta!" Tirza memanggilku saat aku berada di tengah pintu.
Aku terdiam dan menoleh.
"Makasih ya, udah ngabarin gue. Makasih juga udah nungguin Matthew sebelum gue dateng," katanya lembut.
"Iya..." aku tidak bisa berkata banyak, menahan sesaknya rasa sedih yang berkumpul di ujung mata.
Aku segera keluar dari ruangan itu dan keluarlah butiran air mata kesedihan.
Sekali lagi aku mengintip ke dalam, melihat Matthew yang belum sadar dan Tirza di sampingnya.
"Cepat sembuh Matthew sayang. Semoga Tirza bisa menjaga kamu lebih baik dari aku, dulu," bisikku lalu pergi meninggalkan mereka, jauh.




-Ral

Friday, September 26, 2014

Serangkai Abu

Malam tak sedingin biasanya.
Samar-samar terdengar nyanyian angin dan tarian dedaunan.
Aku terduduk diikat rasa lelah.
Kelelahan di tengah perjuanganku menuju puncak.
Tak kuasa ku menahan serangan kenangan.
Memori yang tak dapat ku hapus.
Ingatan yang kulepas namun tak terbang.

Ini cerita tentangmu, bukan aku.
Dirimu yang dulu menemani aku mendaki,
Yang mendorongku jika mulai lelah,
Yang membopong tubuhku jika terluka,
Yang menghiburku dikala jenuh.
Kamu, yang menghujaniku dengan 1001 cara,
Di kala aku patah semangat,
Kala aku hilang arah.

Aku tau, rasa sesal takkan guna.
Terlambat, itulah penyesalan.
Di kala kamu menyelimutiku dengan sejuta cinta,
Aku membuangmu, ku robek hatimu,
Ku patahkan impianmu,
Dan ku lepas genggammu.
Segala ego menguasaiku.
Mengalahkan rasa cinta yang kamu tanam dengan tekun.
Menginjak akar rasa sayang yang mengikat kaki kita.

Kini, di tengah lelahku,
Baru ku rasa tikaman rindu yang begitu menyiksa.
Jiwaku haus akan pelukmu,
Ingin memanggil namamu,
Melemparimu dengan ribuan maaf,
Berlutut dengan sejuta ucap terima kasih.
Menenggelamkan diri di genangan sesal.

Terlambat.

Rindu ini datang terlambat.
Kesempatan itu telah terbawa hujan.
Terlambat untuk menyadari,
Tak ada yang mengenalku lebih baik darimu.

Terlambat.

Tak ada lagi diriku dalam benakmu.
Ya,
Bukan aku yang didentingkan pada pianomu.
Bukan aku yang dimaksud dalam lirik lagumu.
Bukan aku yang ada di bayangan kaca spionmu.
Bukan aku yang muncul setiap kamu membuka mata di pagi hari.
Bukan aku yang ada di layar depanmu.
Bukan aku yang kamu gambar di lembar kosong bukumu.
Dan tentu, bukan aku dihatimu.

Tak apa.
Aku senang,
Melihatmu kembali hidup...
Aku tau, kamu telah menemukan seseorang.
Ia...
Yang lebih baik dariku.
Yang dapat membuatmu menangis karena tawa bukan duka.
Yang cukup dewasa untuk menghargai yang berharga.

Aku tak tau,
apakah curahan hati ini akan kau baca.
Hanya lewat serangkai abu ini dapat ku luapkan.
Muntahan emosi yang tak tau apa maunya.
Ego yang tak menuntut,
Juga rasa yang tak memohon.

Rangkaian kata ini aku tulis untuk menyampaikan rasa sesal dan maafku,
Rasa terima kasih dan syukurku, 
atas kehadiranmu yang pernah menorehkan warna pada halaman-halaman terbaik buku hidupku.
Bahwa aku telah tersadar akan sayap putihmu, juga ekor hitamku.
Bahwa aku takkan melukaimu lagi dengan segala rasa yang meludahiku.
Bahwa aku takkan mengganggumu walau kenangan takkan terkubur berapapun umurnya.
Dan bahwa aku memberi senyuman tulus untukmu dan dirinya.


Kebahagiaanmu adalah bagian dari doaku.
Selalu.



-ral

Sunday, April 20, 2014

Kanan dan Kiri

Kita ini sepasang mata, melihat hal yang sama di waktu yang sama. 
Kita ini sepasang sayap, bersama membentang dan terbang.
Kita juga sepasang sepatu, berjalan beriringan melangkah bergantian.

Tapi...
Layaknya sepasang mata, kita tak bisa saling melihat. 
Seperti sepasang sayap, kita tak bisa saling menyentuh.
Dan sama dengan sepasang sepatu, kita tak bisa melangkah bersama.

Karena yang kanan tetap di kanan, dan yang kiri tetap di kiri.
Aku dan kamu terjebak perbedaan, tapi tak mau berdiri sendiri.


(ral)

Friday, April 18, 2014

Sangkar Kosong

Ini cerita tentangnya. 
Tentang dia yang selalu ada di detik terakhir. 
Tentang dia yang selalu menjadi angan, bukan sekedar kenangan. 
Ini dia, yang hanya bisa aku idolakan tanpa bisa kucintai dengan semestinya.

Ia tak pernah letih beradaptasi dengan aku. 

Berbeda dengan aku, yang tak pernah berhenti berubah dan menuntut diadaptasi. 
Ia selalu terbangun di kala matahari dan bulan bertukar peran, hanya karena aku yang tak pernah bisa mandiri. 
Tentangnya, masih tentangnya, seseorang yang mampu menunggu entah berapa lama demi sebuah hati yang tak pernah pasti.

Aku ingin mencintainya sepadan dengan apa yang telah ia perbuat. 

Sungguh kusesali, aku tidak bisa.
Egoku tidak bisa. 
Aku bisa mencintainya, namun takkan sebesar cintanya padaku. 
Takkan bisa impas nilainya.

Seperti seekor burung yang ku pelihara. 

Aku tidak punya sangkar selebar kepakan sayap yang indah itu. 
Burung itu hanya akan tersakiti karena sangkar ini tak setara luasnya dengan kepak sayap darinya. 
Daripada ku tahan lalu matilah ia, baiknya kulepas saja. 
Ku biarkan ia terbang bebas, mengepakkan sayap indahnya entah kemana, kepada siapa. 
Agar ia pun bisa tumbuh dan berkembang. 
Siapatau aku bisa memperluas sangkar ini untuknya nanti, walau entah berapa lama lagi. 
Dan walau ku tak tau apakah ia akan kembali ke sangkar ini, atau burung lain kah yang harus masuk.

Aku tak tau pasti. Ku biarkan saja dulu sangkar ini, kosong.



(ral)

Thursday, April 10, 2014

Sebuah Pelindung (3rd Version)

Saat itu, matahari mulai menuju pinggiran bumi. Dengan lelah aku menaiki motor tuaku, meninggalkan kampus dan berkeliling sebentar tanpa arah. Aku hanya sedih, karena kekasihku memutuskan untuk meninggalkanku untuk orang lain. Aku berjalan terus, mengikuti arah angin yang meniupku. Mungkin aku bisa mendapat sedikit hiburan?

Tanpa terasa aku melewati sebuah mall. Aku menoleh, lalu memutar balik motorku dan masuk ke dalamnya. Sesampainya aku di dalam area parkir, aku melihat pemandangan deretan motor yang memenuhi area tersebut, juga beberapa motor lain yang berputar mencari tempat untuk mendudukkan kuda mesinnya. Panas mesin kendaraan menusuk kulitku. Bulir-bulir keringat berjatuhan dan membasahi helmku. Aku membuka helm, memperhatikan area tersebut, berharap ada tempat untuk motor tuaku ini. Pelan, aku berputar mencari tempat. Panas semakin mengusir kehadiranku. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat ini, walaupun belum ada tiga ku langkahi. 

Menuju ke pintu keluar, aku melihat sebuah vespa berkilau terparkir di ujung barisan. Vespa lama, namun sangat terurus. Di atasnya ada dua helm dan satu map. Map perempuan. Aku tidak begitu tertarik dengan map itu. Tetapi helmnya… Yang satu helm vespa biasa. Dan yang satu, helm mahal! Helm yang selama ini aku inginkan. Tanpa pikir panjang, aku berhenti di samping vespa tersebut. Aku ingin bahagia sedikit saja hari ini. Sambil berpura-pura membetulkan sesuatu, aku menggantung helmku di motor dan memperhatikan sekitar. Setelah merasa aman, aku mengambil helm idamanku itu, memakainya dan segera meninggalkan tempat itu.

Kringggggggg

Handphoneku berbunyi. Dari teman kampus.

      "Halo?” kataku menjawab telepon sambil membawa motorku ke pinggir.
      "Dimana?” tanyanya.
      “Jalan pulang nih. Kenapa?” tanyaku lagi.
      “Ke cafĂ© biasa ya, lagi pada ngumpul nih, kurang lo doang. Gue tunggu,” katanya lalu menutup telepon.

Aku mengantongi lagi handphoneku dan segera menyusul teman-temanku. Tentunya dengan helm baruku.

      “Woy, dari mana aja lu? Sini gabung,” sambut seorang teman saat aku sampai.
      “Hehe, muter-muter iseng aja tadi. Makan deh yuk, laper,” kataku lalu bergabung dengan yang lain.

Setelah perut terasa kenyang, kami mengobrol dan bercanda seru, sampai tak terasa, malam datang. Entah gelas kopi keberapa yang ku seruput, nikmatnya malam dan pembicaraan melarutkan jalannya waktu. Sampai…

      “Misi, itu motor tua yang plat nomornya B 3859 AX punya siapa ya? Kata mas nya dari meja ini,” tanya seorang perempuan. Galak. Ia ditemani kekasihnya yang hanya diam dengan wajah yang dingin.
      “Saya. Kenapa?” tanyaku dengan kesal, melihat ekspresi mereka berdua.
      “Jadi gini, gue sama pacar gue ke sini mau nyari makan. Tapi perjalanan ke sini nya, gue gak pake helm. Tau kenapa? Soalnya helm yang satu dicolong orang tadi waktu parkir di mall. Beruntungnya, secara kebetulan gue ngeliat helm itu tadi pas markir di sini. Dan pacar gue udah ngecek, itu emang punya dia, ada tandanya. Jadi sekarang buka kunci jok motor lo, dan balikin helm nya,” kata perempuan itu dengan cepat dan jelas. 

Aku ingin melawan. Tetapi dengan apa aku bisa? Memang aku yang salah, aku tak punya alasan. Malu mulai melukiskan warnanya di pipiku. Aku melihat teman-temanku. Mereka ternganga diam. Segera aku berdiri dan mengarah ke motorku. Aku membuka kuncinya dan memberikan helm tersebut ke pasangan itu.

      “Untung gak gue laporin polisi lo!” kata perempuan itu, masih galak. Aku tertunduk bisu karena malu. Perempuan itu segera meninggalkan aku, diikuti pacarnya.
      “Sayang ya, banyak gaya tapi maling. Lu tuh udah hampir diabisin,” laki-laki itu akhirnya angkat bicara. Dingin, tenang, tapi menusuk.
      “Untung lo cewe!” katanya lalu pergi, meninggalkan aku yang berdiri terpaku dan dipenuhi rasa malu.


(ral)

Sebuah Pelindung (2nd Version)

Siang itu, sepulang kuliah, aku pergi ke sebuah mall dengan kekasihku. Aku memarkir vespa kesayanganku di tempat parkir. Kedua helm yang adalah milikku kami letakkan di atas jok. 

“Aku males bawa map deh. Ilang gak ya aku taro di sini?” tanya pacarku sambil meletakkan map kuliahnya di sela jok.
“Gak tau, tapi bawa aja sih,” jawabku sambil merapikan posisi kedua helm di atas jok.
“Ke penitipan barang aja yuk, nitip map aku, helm, sama ransel kamu,” ajaknya.
“Bayar tau, buang-buang duit ah. Katanya mau movie marathon?” tolakku.
“Hmm, yaudah deh,” katanya sambil meletakkan mapnya di sela jok motor.

Kami pun meninggalkan vespa beserta kedua helm dan map nya di tempat parkir. Lalu kami masuk ke dalam mall dan menikmati bahagianya waktu luang.
Sampai hari mulai malam, kami memutuskan untuk makan di luar mall. Kami berjalan beriringan menuju tempat vespanya diparkir. Dari jauh terlihat kilau vespaku dengan bentuknya yang seksi.

“Map ku gak ilang! Hahaha,” katanya padaku dengan ceria, sambil melompat-lompat sedikit.
“Eh, helm aku mana?” belum sempat ku menjawabnya, aku langsung panic melihat helmku yang kini hilang.
“Loh? Tadi kamu taro di atas jok kan? Ini helm kamu yang aku pake ada kok. Mana ya?” jawabnya sambil mencari-cari helm itu ke segala arah.
“Masa diambil orang sih? Aduh, itu helm mahal banget lagi!” Kataku kesal. Terang saja, itu helm kesayanganku!
“Eh masa sih? Baru kali ini deh aku tau helm ilang, biasanya aman-aman aja,” jawabnya polos.
“Ya sama, aku juga baru pertama kali,” kataku sambil mencoba menurunkan emosiku.
“Hmmm, lapor aja ya ke petugas?” ia mencoba memberi solusi.
“Ah, percuma. Gak ada CCTV. Gak bakal ketemu, lama-lamain doang. Yaudah lah,” katanya pasrah, namun kesal.
“Kamu sih, udah aku bilang tadi ke penitipan. Bener kan ilang?” katanya yang tiba-tiba menambah tekanan darahku.
“Penitipan itu bayar. Dan kita mau movie marathon. Kamu kira aku punya banyak duit buat bayar semua? Udah deh ah. Mana helmku yang kamu pake tadi?” emosiku separuh meledak.
“Nih,” katanya singkat dengan nada yang kesal, sambil menyodorkan helmku yang tadi ia pakai.

Mendengarnya, aku sedikit menyesal telah mengatakan ucapan yang tajam tadi. Tetapi aku diam saja, memakai helm tersebut dan menjalakan vespaku. 

Perjalanan kami tempuh dalam diam. Sambil mengendarai vespa, aku memikirkan helmku, perkataanku tadi, dan pacarku yang begitu diam dibalik punggungku.

“Yang, awas!!!!” teriaknya tiba-tiba.

Kami terpental dari vespa. Aku terlempar ke sebuah mobil lalu jatuh ke jalan. Aku menoleh ke arah kekasihku. Ia tergeletak berlumuran darah di atas trotoar. Aku menoleh lagi ke arah vespaku. Kami tertabrak sebuah truk. Itu hal terakhir yang aku ingat.

“Ayo bangun dong, Sayang…” samar-samar terdengar suara perempuan di hadapanku. Aku membuka mata perlahan. Silau. Ku coba lagi dan akhirnya mataku terbuka.
“Mama??” kataku terkejut. Aku melihat sekeliling. Rumah sakit. Oh iya, terakhir kali aku sadar, aku dan pacarku jatuh dari vespa. Eh…
“Mam, pacar aku mana???” tanyaku panic, begitu sadar akan kejadian terakhir yang menimpa kami.
“Hmmm, dia… Dia…” jawab mamaku yang lalu terdiam tanpa menyelesaikan kalimatnya. Aku terdiam lalu mengingat kembali apa yang terjadi. Ia tergeletak dengan darah, dan… Ya Tuhan, dia kan tidak memakai helm!
“Mam, dia dimana?” Tanyaku semakin panic. Sebelum mamaku membuka bibirnya, dokter masuk ke kamar itu.
“Eh, udah sadar? Gimana perasaan kamu?” tanya dokter dengan tenang dan ramah.
“Dok, pacar saya mana?” tanyaku tanpa peduli akan pertanyaannya.
“Hm… Maaf, tapi nyawanya tidak bisa tertolong. Ia mengalami benturan yang sangat keras di bagian kepala. Pendarahannya parah. Ia bahkan sudah kehilangan nyawanya sebelum kami melakukan tindakan apapun,” jawab dokter dengan prihatin.

Aku tidak dapat berkata-kata. Air mata seketika menyerbu kelopak mataku, memenuhinya lalu bertumpahan jatuh dipipiku. Rasa sesal menyesakkan seluruh dadaku. Terakhir bertemu dengannya, aku melontarkan kalimat yang pedas. Dan, aku yang meminta helm itu… Aku yang mengendarai vespa sambil melamun. Aku yang membiarkannya duduk di atas vespaku, dengan resiko tinggi dan tanpa pelindung. Aku… 

Aku yang menyebabkan orang yang paling aku cintai, meninggalkan aku dan juga dunia ini…


(ral)

Sebuah Pelindung

Udah lama ga muncul di dunia per-blog-an.
Well, ini mau ngepost satu cerita yang idenya sih dari true story, tapi ceritanya sama sekali enggak, apalagi endingnya, makin ngelantur hehe.
Gue bikin 3 sudut pandang, masing-masing dengan ending yang beda.
Well, this is the first version, the other two will be posted separately.
Enjoy!

***




Siang itu, sepulang kuliah, aku pergi ke sebuah mall dengan kekasihku. Ia memarkir vespa kesayangannya di tempat parkir. Kedua helm yang adalah miliknya kami letakkan di atas jok. Aku tak ingin membawa map kuliahku ke dalam mall, maka aku meletakkannya di sela jok.

“Ilang gak ya aku taro di sini?” tanyaku padanya.
“Gak tau, tapi bawa aja sih,” jawabnya.
“Tinggal aja deh hehe, semoga aja gak ilang,” kataku akhirnya sembari meletakkan mapku.

Kami pun meninggalkan vespa beserta kedua helm dan map ku di tempat parker. Lalu kami masuk ke dalam mall dan menikmati bahagianya waktu luang.
Sampai hari mulai malam, kami memutuskan untuk makan di luar mall. Kami berjalan beriringan menuju tempat vespanya diparkir. Dari jauh terlihat kilau vespa dengan bentuknya yang seksi.

“Map ku gak ilang! Hahaha,” kataku padanya dengan ceria, sambil melompat-lompat sedikit.
“Eh, helm aku mana?” tanpa menjawab pernyataanku, ia terlihat panic melihat helm yang dia pakai kini hilang.
“Loh? Tadi kamu taro di atas jok kan? Ini helm kamu yang aku pake ada kok. Mana ya?” jawabku sambil mencari-cari helm itu ke segala arah.
“Masa diambil orang sih? Aduh, itu helm mahal banget lagi!” Katanya kesal, 
“Eh masa sih? Baru kali ini deh aku tau helm ilang, biasanya aman-aman aja,” jawabku.
“Ya sama, aku juga baru pertama kali,” katanya sambil menenangkan diri sendiri.

Di tengah percakapan kami, aku melihat dari ekor mataku, sebuah motor merah tua melintas dengan helm yang tak asing. Ia sudah di jalur keluar, menuju loket pembayaran parkir.

“Eh itu bukan helm kamu???” tanyaku padanya sambil menunjuk ke arah motor tua itu.
“Iya! Aku yakin banget, helm itu jarang banget,” jawabnya.

Aku segera lari melintasi jalur parkiran yang sempit itu, melompati beberapa motor jika terlalu menyita waktu untuk menghindarinya. Sampailah aku di sebelah motor tua dan pengendaranya yang kini terlihat panik. Ia mencoba menarik gas penuh, tetapi terlambat, aku lebih cepat. Ku tarik bajunya kuat-kuat sampai ia dan motornya berbelok ke tempat yang lebih luas.

“Heh maling, jangan lari! Sini lu!” bentakku pada pengendara itu sambil menariknya.
Ia oleng dan turun dari motornya.
“Buka helm pacar gue!” bentakku padanya.
“Nggak! Ini, ini helm gue!” katanya berbalik marah.
Perempuan, ternyata. Terdengar kebohongan dari kata-katanya.
“Balikin, atau…”
“Atau apa?” katanya memotong ucapanku.

Tanpa bisa menahan diri, aku membuka paksa helm itu lalu menghajar pipi kirinya. Ku kira pertengkaran ini hanya berhenti sampai di situ. Aku salah. Ia bukan perempuan lemah, sama kuat denganku. Ia balas pukulanku. Kami pun bertengkar ala dua pendekar— atau dua agen FBI. Beberapa pukulan dan tendangan juga tangkisan yang kami keluarkan mengundang perhatian orang-orang di sekitar kami. Aku mulai menyadarinya dan memutuskan untuk menghentikan perkelahian ini. Aku memutar badan dan menendang kepalanya dengan keras. Ia terjatuh telentang di lantai. Aku segera mengambil helm pacarku, menarik tangannya dan segera menaiki vespa. Kami pun pergi dari tempat itu.

“A..aku…Aku gak tau kamu bisa bela diri kaya gitu,” katanya yang masih sangat shock menyaksikan kejadian tadi.
“Itu reflek doang, yah maklum, aku diajarin papa beberapa jurus. Aku udah bilang kan dia ban hitam?” jawabku sambil bercanda.
“Oh gitu… Tapi kamu keren banget tadi. Aku bener-bener kaget,” katanya lagi.
“Hahaha, biasa aja ah. Mungkin karna kamu kira aku manja aja kalii, hehehe,” kataku mengakhiri percakapan tersebut.

Yah, mungkin ini hanya kejutan yang pertama. BIar saja ia tak tau betapa besar ancaman yang datang padanya tadi. Biar saja ia tak tau bahwa ayahnya adalah orang penting yang dibenci banyak orang. Biar saja ia tak tau bahwa map yang aku tinggalkan di atas vespanya adalah alat pelacak dan perekam. Dan biar saja ia tak tau, bahwa aku adalah agen rahasia yang dibayar ayahnya untuk melindunginya.


(ral)