Hai, jadi sebenernya ini ditulis untuk ikutan lomba cerpen di LINE haha.
Tapi entah kenapa emailnya gakbisa kekirim.
Jadi yaudah di post disini aja hehe
_________________________________________________________
Cinta pertama.
Dua kata yang sering didengar, sering disebut, hingga bahkan sering dikatakan klise;
namun jarang dimengerti.
Aku pun sempat beberapa kali menyalahartikan cinta pertama, bahkan menyalahartikan cinta itu sendiri.
Ku kira, cinta pertama berarti pacar pertama, atau gebetan pertama yang kamu dambakan di masa sekolah dasar.
Sebagai perempuan yang sering dipuji karena kecantikan dan prestasi, banyak laki-laki yang mendekati aku.
Bahkan sejak SD, aku sudah sering “ditembak”.
Berkali aku menolak untuk mempunyai hubungan.
Aku terlalu takut untuk berpacaran. Selain itu, aku menyukai seseorang yang kukira adalah cinta pertamaku.
Hingga akhirnya aku memasuki bangku SMP dan berubah karena pengaruh pergaulan. Akhirnya pertama kali aku memutuskan untuk memiliki hubungan yang dinamakan pacaran.
Jadian—lalu putus. Begitu ternyata pola berpacaran.
Yang lucu adalah, di masa SMP aku sempat berhasil berpacaran dengan orang yang aku kira cinta pertamaku itu. Tetapi justru aku biasa saja ketika bersama dia. Ternyata selama SD, aku hanya kagum, bukan cinta. Lagipula kalau dipikir-pikir, waktu ku SD tahu apa aku soal cinta?
Tiga tahun di SMP; lalu tiga tahun di SMA; empat tahun kuliah.
Seiring bergantinya bulan dan tahun, berkali kucoba berkomitmen dalam hubungan.
Waktu tetap berlari dengan kencang, hingga aku pun tiba-tiba sudah dewasa.
Sekejap aku merefleksikan hubungan-hubungan yang pernah aku jalani.
Selama ini, ku kira cinta itu sesuatu yang sederhana.
Sesuatu yang akan mudah dimengerti.
Namun ternyata, dari sekian laki-laki yang telah ku jadikan pacar; dari sekian waktu yang telah kuhabiskan untuk berpacaran, baru kini aku sadar, bahwa cinta tak sesederhana itu.
Pacar pertama bukan berarti cinta pertama.
Bahkan di saat aku sudah bekerja dan usiaku memasuki seperempat abad, barulah aku mengerti bagaimana cinta yang sebenarnya.
Aku kembali ke memori di saat duduk di bangku SMA.
Kala itu, kami baru saja memasuki ajaran baru di kelas 1.
Ada anak baru di sekolahku, tepatnya di kelasku.
Ia berbeda dengan anak laki-laki yang lain; dari penampilan hingga cara berbicara yang berbeda; bercandanya pun berbeda.
Hanya butuh beberapa hari baginya untuk menjadi pusat perhatian di kelas.
Bukan karena tampan atau kaya, tetapi karena kekonyolan dan pembawaannya yang selalu menjadikannya moodmaker di kelas.
Tapi momen dimana aku menyadari bahwa aku tertarik olehnya adalah ketika ia mengeluarkan jurus bakat musiknya di kelas. Begitu kharismatik, namun tetap rendah hati.
Singkat cerita, aku dan dia semakin dekat dan akhirnya berpacaran.
Satu tahun berlalu, dua tahun, lalu lulus.
Tiga tahun bersama, banyak sekali kenangan yang indah, buruk, lucu, tak terlupakan.
Bahkan keluargaku dan keluarganya sudah saling kenal.
Aku pun pernah ikut diajak liburan bersama keluarga besarnya.
Semua berubah ketika kami pergi ke universitas yang berbeda, dan dari sana lah mulai benih-benih perpisahan.
Pergaulan kami berbeda, begitu pun jadwal, dan akhirnya prinsip.
Naik dan turun, berbagai pertengkaran, dan menurunnya frekuensi bertemu, menghantarkan kami pada keputusan untuk berpisah.
Tak butuh waktu lama, aku dan dia sama-sama memiliki kekasih baru.
Kami pun menjalani hidup di jalan masing-masing sejak itu.
Hal tersebut terjadi sekitar 6 tahun yang lalu.
Mungkin sampai di sini, kalian mengira aku sebegitu rindu dan ingin bertemu dengannya, tidak bisa melupakannya dan masih menyimpan rasa diam-diam?
Salah. Justru anehnya, hingga kini, aku dan dia terus bersahabat.
Memang, banyak orang yang tidak mengerti dengan hubunganku dengannya.
Kami berdua sama-sama memiliki kekasih. Tapi kami selalu saling peduli satu sama lain.
Di titik tertentu, kami pasti bertemu atau mungkin sekedar mengirim pesan untuk bertukar kabar dan canda.
Aneh? Aku tahu.
Dan jika kami bertemu, apakah tumbuh kembali perasaan itu? Tidak.
Kami hanya sekedar peduli, dan tidak akan pernah berhenti untuk peduli.
Perkembangan hidupnya aku banggakan dan aku dukung dengan caraku sendiri.
Apakah aku ingin kembali bersama dengannya? Tidak.
Secara prinsip, aku dan dia sudah berbeda jauh. Namun aku akan selalu berharap yang terbaik untuknya.
Baru-baru ini aku sadari, bahwa dari sekian hubungan yang aku miliki dengan berbagai laki-laki,
dia adalah cinta pertamaku, dan mungkin satu-satunya orang yang pernah aku benar cintai.
Ada kutipan film yang langsung mengingatkanku pada dirinya.
Kutipan itu menjawab keanehan hubunganku dengannya.
Istilah korea yang dinamakan “jung”.
Kata tersebut tidak mudah untuk diartikan; merupakan sebuah hubungan yang sederhana namun kompleks; hubungan yang tak bisa dirusak.
Walaupun cinta berubah menjadi benci, aku takkan bisa menghapusnya dariku; aku akan selalu mempunyai tempat khusus di hatiku untuk peduli padanya.
Cinta pertamaku sudah berubah menjadi rasa sayang yang berbeda, yang tak ingin memiliki,
namun takkan pernah tergantikan.