di malam yang dingin, ditemani hangatnya suara gelas-gelas bersentuhan
aku bertualang mencari percikan euforia
aku tau itu semu
dari semua ilusi akan ingatan yang memudar
kuambil satu demi satu
sampai hilang rasanya beban
seiring dengan hilangnya kuasa diri
di sela canda tawa
ada gejolak yang meronta ingin mendobrak keluar dari dalam benak
gelitikan dari dalam tubuh
yang menggoda mata, bibir, dan tanganku
lucu, ku kira bukan ancaman
saat rambut menarik kepala hingga hadap melihat langit
jalur udara ditahan genggaman
aku dirasuki gairah yang mematikan akal sehat
layaknya seorang yang gelap mata
seperti binatang yang lapar dan berburu
fokus, haus, dan tak kenal moral
entah memang nikmat dunia
atau hanya aliran adrenalin kesalahan
walau tubuhku merasa lega
sesal merayap dari hati ke seluruh aliran darah
sebuah siklus, yang tak henti menghantuiku
dari akhir, kembali ke awal