malam itu, tangisnya pecah juga.
segala beban, kesedihan, pikiran,
tertuang dalam air mata.
pemicunya adalah teriakan bolak-balik,
antara ayah dan ibunya.
suatu yang paling ia benci, sampai selalu ingin meninggalkan rumah.
sejak kecil, pertengkaran seperti ini selalu jadi alasan tangisnya.
dulu, karena takut terjadi perpisahan.
kini, karena takut salah satu tersakiti.
mereka sudah tua.
tak ada yang lebih penting baginya.
cita-citanya berubah menjadi kebahagiaan mereka.
tapi, itu hanya pemicu.
saat pitam naik ke titik didih,
yang meledak adalah isi rasa dan pikirnya.
ada yang mengganjal di hatinya.
pertempuran antara kepentingan dan kemauan.
timbangan ego di antara cita-cita dan ayah-ibu.
ia menangis tersedu,
tengkurap memeluk bantal,
hingga mata terasa bebal.
ia merasa gagal.
ia menyalahkan dirinya lagi.
seandainya ia sudah sukses sekarang,
ayah-ibu nya tak perlu bertengkar karena uang.
ia tak perlu cemas karena ayah-ibunya bisa hidup tanpa dikejar hutang dan angka.
kerjanya kurang keras.
mentalnya kurang giat.
ia terlalu terbuai nyaman.
talentanya banyak,
namun ia selalu menyia-nyiakan apa yang dipunya.
tak pantas ia merasa.
masih terlalu lemah untuk ingin jadi pejuang.
ia ketakutan memandang jalannya.
ia berpikir keras, apa yang bisa dilakukannya?
haruskah ia mengorbankan bidang kesukaannya,
dan mencari nafkah yang lebih pasti dan stabil?
pikirannya berputar sembari air mata tetap mengalir.
sampai di tebing putus asa,
ia merasa rela untuk menikah dengan siapapun yang kaya,
benar-benar bunuh diri agar ayah-ibu nya hidup.
lalu kembali berlari pikirannya.
umurnya sudah seperempat abad.
memang sepantasnya ia mulai berpikir tentang pernikahan.
namun ia takut,
begitu takut untuk menjalin hubungan atas sumpah yang sangat kuat.
kembali lagi,
ia menyadari,
pertengkaran dan kondisi ayah-ibu nya menyumbang banyak terhadap ketakutannya.
akhirnya ia menyalakan telepon genggam,
yang sejak sore ia matikan karena ingin menghilang.
dengan menonton, ia mengalihkan pikirannya.
ternyata kecintaannya pada film dan sejenisnya,
hanya sebatas peralihan bagi pikirannya yang bekerja terus tanpa hasil.
lagi-lagi, ia merasa tidak berguna.
lalu menyerah lagi, dan mencoba terlelap.
No comments:
Post a Comment