Hanya itu pintaku, Tuhan.
Jangan sampai bahagia dicabut dari hidupnya.
Hukumlah aku, jangan dia...
***
"Netta, kamu buruan jemput mama ya sekarang di salon. Mama udah telat nih mau ke kantor," pinta mama buru-buru di telepon.
"Iya, Ma. Aku baru selesai latihan cheers, sebentar ya," jawabku lalu menutup telepon.
Aduh, cape banget. Haaah gini deh kalo sharing mobil sama mama.
Oke, aku beli minum, ngadem bentar, terus jemput mama.
*
Astagaaaa macet banget sih, udah buru-buru gini.Ini lagi motor berantakan di perempatan.
KRIIIIING KRIIIIING
Aduh mama telfon lagi, pasti dia udah ngomel-ngomel deh ini.
Tancep gaaaaasssss.
BRAAAAAK
Ya Tuhan! Aku nabrak motor! Gimana nih!!!!
"Woy! Turun Mba!!" teriak orang-orang di luar.
"I...iya, Mas..." aku segera turun dari mobil.
Seorang remaja laki-laki terluka parah di depan mataku.
Dan dia......................
Nggak! Ini ga mungkin!!!!!!
***
"Net, ayo pulang dulu. Kamu belum makan, belum mandi, terus kuliah kamu gimana coba? Yang bener dong kamu tuh," suara mama samar-samar masuk ke otakku, memecah lamunan yang hampir jauh.
"Nggak, Mah. Aku mau di sini dulu sampe dia sadar," jawabku tanpa melihat ke arah mama.
"Iya tapi kamu nggak boleh nyalahin diri kamu sendiri terus, Netta. Kan memang kejadiannya dia yang ngelanggar lalu lintas. Bahkan kamu udah bayar bill rumah sakitnya walaupun udah terbukti ini bukan salah kamu. Udah ya, Netta. Keluarganya kan juga udah menuju ke sini," jawab mama membujuk dan mengomel sekaligus.
"Iya, Ma. Keluarga dia harus beli tiket pesawat dulu, terus perjalanan berapa jam? Mama tega liat dia sendiri?" aku bicara sambil setengah menangis.
"Mama ngerti. Tapi di sini kan ada dokter sama suster yang bisa jagain dia. Please, Netta. Pulang dulu yah. Papa kamu juga udah nyariin terus," kata mama.
"Ya udah, Aku pulang. Tapi aku tunggu Tirza dateng dulu," jawabku sambil mengeluarkan handphone.
"Oke. Mama tunggu di restoran lobby ya, sekalian beli makan buat kamu," kata mama tanpa kujawab.
"Halo, Tirza? Udah di mana?" tanyaku di telepon.
"Ini otw, Net. Macet banget. Matthew udah sadar belum?" Tirza balik bertanya.
"Belum, Za. Hmm... Ya udah deh, gue tunggu ya," jawabku lalu menutup telepon.
"Matt... Sadar dong. Maafin aku... Aku selalu bego. Aku selalu bikin kamu sakit," aku gak kuat menahan air mata.
Sambil sesunggukan aku duduk di samping tempat tidurnya dan aku genggam tangannya.
"Matthew... Sembuh yaaaa, please..." kata ku lagi sambil menaruh kepalaku di atas tangannya dan membiarkan airmataku membasahinya.
*
"Matthew!!!" suara Tirza membangunkan ku.Aku segera melepas genggaman tanganku dan menghapus airmata yang tersisa di wajahku.
Tanpa mempedulikan aku, Tirza segera berlari menuju Matthew dan memeluknya.
Ia lalu menangis dan mencium keningnya.
"Matthew kamu kenapa bisa gini sih... Sadar sayang, kamu harus sembuh ya sayang..." kata Tirza sambil menangis.
Tanpa kata aku beranjak keluar ruangan.
Tidak sepantasnya aku di sini.
"Netta!" Tirza memanggilku saat aku berada di tengah pintu.
Aku terdiam dan menoleh.
"Makasih ya, udah ngabarin gue. Makasih juga udah nungguin Matthew sebelum gue dateng," katanya lembut.
"Iya..." aku tidak bisa berkata banyak, menahan sesaknya rasa sedih yang berkumpul di ujung mata.
Aku segera keluar dari ruangan itu dan keluarlah butiran air mata kesedihan.
Sekali lagi aku mengintip ke dalam, melihat Matthew yang belum sadar dan Tirza di sampingnya.
"Cepat sembuh Matthew sayang. Semoga Tirza bisa menjaga kamu lebih baik dari aku, dulu," bisikku lalu pergi meninggalkan mereka, jauh.
-Ral
No comments:
Post a Comment