Friday, September 26, 2014

Serangkai Abu

Malam tak sedingin biasanya.
Samar-samar terdengar nyanyian angin dan tarian dedaunan.
Aku terduduk diikat rasa lelah.
Kelelahan di tengah perjuanganku menuju puncak.
Tak kuasa ku menahan serangan kenangan.
Memori yang tak dapat ku hapus.
Ingatan yang kulepas namun tak terbang.

Ini cerita tentangmu, bukan aku.
Dirimu yang dulu menemani aku mendaki,
Yang mendorongku jika mulai lelah,
Yang membopong tubuhku jika terluka,
Yang menghiburku dikala jenuh.
Kamu, yang menghujaniku dengan 1001 cara,
Di kala aku patah semangat,
Kala aku hilang arah.

Aku tau, rasa sesal takkan guna.
Terlambat, itulah penyesalan.
Di kala kamu menyelimutiku dengan sejuta cinta,
Aku membuangmu, ku robek hatimu,
Ku patahkan impianmu,
Dan ku lepas genggammu.
Segala ego menguasaiku.
Mengalahkan rasa cinta yang kamu tanam dengan tekun.
Menginjak akar rasa sayang yang mengikat kaki kita.

Kini, di tengah lelahku,
Baru ku rasa tikaman rindu yang begitu menyiksa.
Jiwaku haus akan pelukmu,
Ingin memanggil namamu,
Melemparimu dengan ribuan maaf,
Berlutut dengan sejuta ucap terima kasih.
Menenggelamkan diri di genangan sesal.

Terlambat.

Rindu ini datang terlambat.
Kesempatan itu telah terbawa hujan.
Terlambat untuk menyadari,
Tak ada yang mengenalku lebih baik darimu.

Terlambat.

Tak ada lagi diriku dalam benakmu.
Ya,
Bukan aku yang didentingkan pada pianomu.
Bukan aku yang dimaksud dalam lirik lagumu.
Bukan aku yang ada di bayangan kaca spionmu.
Bukan aku yang muncul setiap kamu membuka mata di pagi hari.
Bukan aku yang ada di layar depanmu.
Bukan aku yang kamu gambar di lembar kosong bukumu.
Dan tentu, bukan aku dihatimu.

Tak apa.
Aku senang,
Melihatmu kembali hidup...
Aku tau, kamu telah menemukan seseorang.
Ia...
Yang lebih baik dariku.
Yang dapat membuatmu menangis karena tawa bukan duka.
Yang cukup dewasa untuk menghargai yang berharga.

Aku tak tau,
apakah curahan hati ini akan kau baca.
Hanya lewat serangkai abu ini dapat ku luapkan.
Muntahan emosi yang tak tau apa maunya.
Ego yang tak menuntut,
Juga rasa yang tak memohon.

Rangkaian kata ini aku tulis untuk menyampaikan rasa sesal dan maafku,
Rasa terima kasih dan syukurku, 
atas kehadiranmu yang pernah menorehkan warna pada halaman-halaman terbaik buku hidupku.
Bahwa aku telah tersadar akan sayap putihmu, juga ekor hitamku.
Bahwa aku takkan melukaimu lagi dengan segala rasa yang meludahiku.
Bahwa aku takkan mengganggumu walau kenangan takkan terkubur berapapun umurnya.
Dan bahwa aku memberi senyuman tulus untukmu dan dirinya.


Kebahagiaanmu adalah bagian dari doaku.
Selalu.



-ral

No comments:

Post a Comment